Proteksi Diri dari Kebocoran Data

.

Kenapa banyak kasus yang berawal dari kebocoran data. Kebocoran data sendiri terjadi karena keteledoran pengguna ataupun pemilik aplikasi. Pada dasarnya kebocoran bisa dilakukan dengan peretasan melalui virus, baik dalam link, file, ataupun hardware. 

Menghindarkan kebocoran data bagi pengguna sangatlah sulit, pasalnya banyak cara yang dilakukan para peretas guna membocorkan data. Tetapi banyak hal yang bisa dilakukan publik untuk melindungi data yang tersimpan dalam gawainya. 

Pesan dari email, link, iklan pop-up, dan perangkat lunak ilegal menjadi celah bagi peretas untuk mengambil informasi sensitif yang dimiliki masing-masing individu. Adapun cara penanggulangan kebocoran data yang memang bisa dilakukan masyarakat sebagai pengguna teknologi.

  1. Mengatur ulang kata sandi

Kata sandi dibuat sebagai salah satu syarat membuat akun, tetapi tak jarang masyarakat menggunakan kata sandi yang mudah ditebak. Seperti tanggal ulang tahun, nama keluarga, nama lengkap, ataupun kata sandi lain yang pada dasarnya mudah diprediksi bagi peretas. Karena informasi pribadi yang meliputi hal tersebut biasa tercantum di media sosial.

Selain itu juga penggunaan kata sandi yang sama untuk semua akun dapat membuka peluang besar untuk kebocoran data. Penggunaan kata sandi dengan menggabungkan huruf kapital, angka, serta penyetelan kata sandi yang berbeda untuk setiap akunnya dapat menjadi tindakan preventif seseorang guna.

  1. Melakukan Otentikasi multi-faktor

Sudah banyak aplikasi yang menerapkan fitur ini untuk sign up. Email biasanya menjadi pilihan untuk melakukan dua-faktor otentikasi, yang mana aplikasi akan mengirimkan pesan verifikasi yang harus dibuka oleh pemilik akun agar berhasil memasuki aplikasi tersebut. Namun sayangnya melakukan otentikasi multi-faktor biasa digunakan untuk mendaftarkan akum, dan jarang sekali aplikasi melakukan otentikasi untuk log in

  1. Menghindari penggunaan wifi publik

Melakukan pendaftaran akun dengan wifi publik sangat beresiko. Bisa jadi wifi tersebut memiliki keamanan yang lemah, sehingga peretas mudah menyusup melalui IP wifi. Yang kemudian peretas memperalat wifi untuk melihat kata sandi yang terekam. Penggunaan wifi publik dengan keamanan rentan sangat tidak disarankan untuk digunakan apabila publik mengakses aplikasi yang bersifat pribadi, baik transmisi data sensitif, melakukan pembayaran via daring, dan aktivitas yang membutuhkan 

  1. Teliti bermedia

Hal sederhana yang harus dimiliki semua orang sebagai pengguna teknologi, yaitu literasi digital. Publik selayaknya melek teknologi, baik dalam bertindak dan berperilaku di dunia siber. Kewaspadaan dalam melakukan aktivitas, mendaftarkan diri, melakukan komunikasi di dunia digital selayaknya diterapkan. Mulai dari tidak membagikan data sensitif secara sembarang ke media sosial, menghindari penggunaan aplikasi atau link ilegal yang biasa berasal dari iklan pop-up, dan masih banyak lagi tindakan preventif yang seharusnya dilakukan masyarakat dalam bermedia. 

Yang terpenting dari semua itu yakni mulai peka terhadap perubahan yang dirasakan pada gawai, akun, atau aplikasi otentikasi. Karena peretasan data bisa dilakukan juga dari duplikasi halaman website yang jarang disadari masyarakat. Tindakan preventif lainnya yakni tidak menjadikan dunia siber sebagai dunia utama, karena kekerasan siber di Indonesia sendiri masih rentan terjadi dan sulit diatasi oleh payung hukum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Layanan Kami

Pembuatan Aplikasi Mobile

Pembuatan Aplikasi Web

Pembuatan Website