E-Commerce, Kawan atau Lawan bagi UMKM?

Beberapa waktu lalu, jagat Twitter di hebohkan dengan tagar #SellerAsingBunuhUMKM. Tagar tersebut menjadi viral setelah beberapa konsumen mengunggah gambar paket produk yang mereka beli via e-commerce. Pada paket tersebut tertulis nama pengirim Mr Hu yang beralamat di Shangxue Industrial Park, Guangdong, Tiongkok.

Warganet lainnya mengomentari banyaknya pengguna yang membeli produk yang di berasal dari Tiongkok. Hal ini dinilai dapat membunuh bisnis UMKM lokal. Influencer Tirta Mandira Hudi atau yang lebih dikenal dr.Tirta pun ikut berkomentar. “Harganya sangat murah. Transaksi eceran lintas-negara. Ini berbahaya untuk kelangsungan UMKM”, paparnya melalui akun Twitter pribadinya.

Dari fenomena tersebut kita selaku masyarakat awam dapat melakukan penilaian untuk menentukan apakah keberadaan E-commcerce merupakan peluang yang dapat dijadikan kawan atau malah sebuah ancaman yang sulit untuk dilawan.Beberapa platform e-commerce sebenarnya mempunyai program untuk meningkatkan ekspor UMKM lokal.

Shopee membuat progam Kreasi Nusantara dari Lokal untuk Global. Perusahaan berusahan untuk membantu memasarkan produk UMKM binaan ke Singapura, Malaysia, dan negara lain di Asia Tenggara. Pada tahun lalu, ada 20 UMKM yang mengikuti program tersebut.

Bukalapak juga merambah pasar ekspor dengan meluncurkan program BukaGlobal pada Mei 2019. Lewat layanan tersebut, pengguna di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hong Kong, dan Taiwan bisa membeli produk UMKM Indonesia melalui Bukalapak.

Sedangkan Tokopedia mengklaim, dari 9,9 juta mitra penjual, hampir seluruhnya merupakan UMKM. E-commerce bernuansa hijau ini pun menjangkau 98% kecamatan di Indonesia.

Namun program tersebut tidak dapat banyak membantu UMKM untuk bersaing di pasar dalam negeri. Hal ini di sebabkan oleh dua permasalahan utama yaitu asal barang yang dijual penjual lokal dan prilaku konsumen dalam negeri.

Permasalah pertama dipertegas dengan pernyataan dari peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda. Beliau mengatakan, pemerintah belum merilis data resmi terkait barang impor di e-commerce. “Perkiraan saya, produk lokal hanya 4-5% saja pangsa pasarnya di platform”.

Hal itu mempertimbangkan banyaknya pengecer atau reseller yang menjual barang impor. Mereka terhitung sebagai pedagang lokal, meski produk yang dijual merupakan impor. Hal ini jelas membuat UMKM tetap merugi, karena meski nilai penjualan di E-commerce sangat besar, namun perputaran barang dari setiap transaksi yang ada berasal dari produk impor bukan produk dalam negeri.

Permasalahan kedua dipertegas dengan survei Katadata Insight Center (KIC) terbaru. Hasil survei tersebut menunjukan 34,2% konsumen menyukai pakaian impor. Sedangkan 42,9% menggemari sepatu dari luar negeri. Bahkan, 61,7 % responden memilih barang elektronik impor. Selain itu, 75,4 % menyukai gadget buatan luar negeri ketimbang lokal.

Riset bertajuk ‘Perilaku Belanja Konsumen Indonesia’ itu mengacu pada hasil survei terhadap 6.697 responden usia 17-65 tahun. Survei dilakukan selama 13-17 Oktober 2020. Sedangkan riset KIC dan Kredivo sebelumnya menunjukkan, produk busana berkontribusi 30 % terhadap total transaksi di e-commerce. Begitu juga dengan sepatu yang masuk kategori aksesori fashion. Busana masih menempati posisi teratas dari sisi penjualan di e-commerce sejak 2016 lalu.

Dengan membaca data diatas, kita bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa prilaku konsumen dalam negerilah yang membuat produk impor terus membanjiri berbagai platform e-commerce karena tingginya permintaan. Hal ini yang membuat penjual asing semakin berminat untuk masuk ke pasar dalam negeri. Hasil akhirnya tentu membuat produk dalam negeri yang semakin sulit untuk bersaing dan para pelaku UMKM tidak akan pernah menjadi Tuan di rumahnya sendiri.

Dengan adanya fakta kondisi pasar dan daya saing UMKM tersebut, para pelaku UMKM sebaiknya melakukan upaya yang lebih tepat dan berkembang dalam melancarkan bisnisnya. Yaitu dengan mengoptimalkan digitalisasi bisnis. Perlu diketahui oleh para pelaku UMKM bahwa digitalisasi tidak hanya sebatas penggunaan e-commerce saja. Penggunaan teknologi atau digitalisasi guna memperluas saluran pemasaran produk UMKM yang harus digencarkan bisa berupa periklanan digital, kepemilikan website, hingga pembuatan aplikasi bisnis.

Tapi sebagai pelaku bisnis, apakah Anda masih merasa kebingungan terkait hal-hal berbau digital? Tidak perlu khawatir, karena Nemolab dapat memberikan solusi pembuatan channel bisnis digital milik Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Layanan Kami

Pembuatan Aplikasi Mobile

Pembuatan Aplikasi Web

Pembuatan Website